Kasus tewasnya penyadap karet terungkap, korban tewas bukan diserang binatang buas melainkan dibunuh

0 33
DSC00701
INTEROGASI: Kapolres Sijunjung AKBP. Sugeng Riyadi, S.IK, MH, M.Si menginterogasi “AM” tersangka pembunuhan di Mapolsek Sijunjung.

SIJUNJUNG: Kasus kematian tragis yang dialami Sari, 34, seorang petani karet di dalam kebun karetnya yang berada di jorong Bukit Buar nagari Paru kecamatan Sijunjung pada senen (3/9) lalu. Ternyata bukan meninggal akibat serangan binatang, melainkan dibunuh. Pelakunya adalah kakak ipar korban sendiri.

Kasus pembunuhan ini terungkap berkat kesigapan petugas kepolisian dalam mengusut kematian Sari, karena aparat curiga dengan kematian korban. Pada awalnya aparat kepolisian hampir terkecoh dengan hasil otopsi dokter, dan informasi beberapa warga yang membenarkan bahwa luka yang dialami korban akibat diserang binatang buas, namun kasus kematian tersebut terus diusut petugas. Ditambah informasi dari beberapa keluarga korban yang menemukan beberapa kejanggalan dengan kematian Sari. Berbagai kejanggalan mulai terungkap, hingga menemukan titik terang. Semua kecurigaan keluarga korban dan warga mengarah kepada Amril( 40), suami kakak kandung korban. Saat diinterogasi petugas di Mapolsek Sijunjung, pelaku sempat mengelak namun berkat kegigihan petugas yang menangani kasus tersebut akhirnya tersangka Amril mengaku, dan langsung dijebloskan kedalam sel Mapolsek Sijunjung.

Pelaku mengaku nekat membunuh adik kandung istrinya tersebut karena merasa sakit hati sering diejek korban. Sehingga timbul perasaan sakit hati terhadap si korban dan timbul niat untuk menghabisi nyawa si korban.

“Awalnya kita sedikit kesulitan mengumpulkan barang bukti dan saksi, karena saksi yang melihat kejadian tidak ada, dan memang banyak laporan adanya warga yang melihat pelaku dari arah TKP dipagi hari saat korban terbunuh, namun hal tersebut tidak bisa dijadikan pegangan, dan setelah kita korek keterangan dari pelaku, akhirnya dia (pelaku) mengaku membunuh korban karena merasa sakit hati sering diejek,” ujar Kapolres Sijunjung AKBP Sugeng Riyadi S.Ik, MH, M.Si didampingi Kapolsek Sijunjung AKP U. Harianja pada sabtu (14/9) kemarin di Mapolsek.

Kapolres Sijunjung mengatakan pengungkapan kasus tersebut selain kerja keras aparat kepolisian juga tak lepas dari informasi warga yang disampaikan kepada pihak kepolisian untuk membantu proses penyelidikan dan pemeriksaan saksi, sehingga meringankan kinerja penyidik untuk menyingkap tabir kasus pembunuhan tersebut.

Kapolres Sijunjung menambahkan, bahwa Berdasarkan keterangan dari pelaku, korban dibunuh dengan menggunakan pisau Takiak untuk menyadap karet milik korban. Dibantu warga, puluhan aparat kepolisian menemukan barang bukti yang dibuang pelaku tak jauh dari TKP. “Walaupun tidak dikategorikan sebagai pembunuhan berencana, namun pelaku dengan sengaja mendatangi korban dihutan. Atas perbuatan tersebut, pelaku diancam dengan pasal 338 jo 340 KUHP tentang pembunuhan dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara maksimal seumur hidup” tegas Sugeng Riyadi.

Terungkapnya kasus sadis ini bermula saat korban akan dikuburkan, dimana cerita dari mulut ke mulut warga yang akhirnya sampai ke telinga keluarga korban mulai beredar di nagari Paru, bahkan sempat membuat heboh warga di nagari yang berbatasan dengan kecamatan Kamang Baru tersebut.

Tersiar kabar, bahwa beberapa saksi yang juga petani karet di sekitar kebun karet korban melihat seseorang pria yang merupakan kakak ipar korban keluar dengan tergesa dari areal kebun korban di pagi meninggalnya korban. Bahkan ada petani lainnya yang mendengar teriakan korban ketika itu, namun hanya sekali. Sehingga tidak terlalu menjadi perhatian karena hanya terdengar sayup. Maka dalam sekejap, tersebar kabar bahwa Sari (korban) meninggal akibat dibunuh. Dan semua tuduhan tersebut mengarah kepada, Amril alias Am Malin, suami kakak kandung korban yang tinggal serumah dengan korban.

“Warga lainnya menyadap karet tak jauh dari TKP juga mendengar korban berteriak pada pagi itu, tapi hanya sekali, hingga tak terlalu dihiraukan warga,”ungkap Syair, 50, sepupu korban.

Arlinda (43), kakak kandung korban  menceritakan, bahwa ketika korban pergi menyadap karet pada senen (3/9) itu, korban masih  memakai sebuah kalung emas dan memakai jilbab. Dan ketika mayat ditemukan, kalung tersebut tidak ditemukan lagi di tubuh korban, bahkan setelah dicari puluhan warga, kalung tersebut tidak juga ditemukan.  Namun ketika pelaku Amril dibantu seorang keluarga lainnya mencari kalung emas tersebut, pelaku menemukannya dalam sekejap. Hingga kecurigaan warga semakin bertambah, bahwa pelakulah yang telah membunuh Sari.

“Banyak kecurigaan keluarga dan warga yang mengarah kepada Amril, diantaranya adanya warga yang melihat si pelaku dari kebun adik saya ketika itu, dan bahkan ada pula petani karet yang mendengar pekikan korban, ditambah sebelumnya korban dan pelaku sering bertengkar di rumah soal anak, karena pelaku memang sering berbuat kasar terhadap anak dan istrinya, dan korban tidak menerima kakak dan ponakannya diperlakukan kasar oleh Amril, sehingga sering adu mulut,”ulas Arlinda didampingi keluarganya ketika mendatangi Mapolsek Sijunjung.

Pada berita sebelumnya, kematian korban disebut-sebut akibat serangan babi hutan. Karena luka menganga di bagian perut yang dialami korban seperti akibat serangan babi hutan. Ditambah hasil otopsi pihak puskesmas Kamang Baru yang menyebut luka yang dialami korban bukan oleh senjata tajam sejenis pisau. Namun setelah beberapa hari korban dikuburkan, kecurigaan warga dan keluarga bahwa korban mati dibunuh akhirnya terbukti.

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.